Terimalah Perbedaan; Jangan Salahkan Orang Lain Hanya Karena Dia Berbeda Dengan Kita

Terimalah Perbedaan; Jangan Salahkan Orang Lain Hanya Karena Dia Berbeda Dengan Kita
Terimalah Perbedaan; Jangan Salahkan Orang Lain Hanya Karena Dia Berbeda Dengan Kita
Photo credit: Ashley Coombs via VisualHunt / CC BY-ND



Terimalah perbedaan, jangan salahkan orang lain hanya karena dia berbeda dengan kita. Saya pernah bertemu dengan seorang dosen di salah satu kampus, dia tipe orang yang tidak bisa menerima perbedaan, kalau pun dia tidak suka dengan penampilan orang lain, setidaknya gunakanlah cara yang elegan khas pendidik. 

Sebenarnya, saya tidak ada keperluan dengannya, kenal saja tidak, saya berkunjung ke ruang dosen untuk menemui dosen yang saya kenal dekat untuk membicarakan komunitas debat bahasa Inggris. Kebetulan, saya sholat di kampus itu, seusai sholat, berhubung lokasi masjid dan ruang dosen tidak jauh, saya langsung bergegas ke ruang dosen. 

Sesampainya di ruang dosen, saya memperhatikan sekeliling, saya berharap bisa bertemu dengan dosen yang ingin saya temui. Sayang, beliau belum ada di ruang dosen. Dan setelah itu, peristiwa menjengkelkan menimpa saya.

Ada dosen yang menegur saya karena saya tidak mengenakan kemeja, dia menganggap saya tidak sopan, tidak puas dengan memarahi saya, dia mengeraskan suaranya supaya semua dosen yang ada di dalam ruangan itu mendengar ocehannya. Seketika itu, semua mata tertuju pada saya, saya seperti sedang di adili di ruang sidang. Dosen itu tidak berhenti mengoceh dan dosen lain ikut mendukungnya. 

Ruangan itu semakin gaduh dengan ocehan yang menyalahkan penampilan saya. Karena saya tidak tahan mendengar ocehan  dosen itu, saya langsung berpaling pergi keluar ruangan, tahu apa yang dilakukannya ketika saya berjalan menuju pintu keluar? Dosen itu sekali lagi mengeraskan suaranya sampai-sampai seisi ruangan bisa mendengarnya, saya tidak peduli dengan itu, lebih baik saya keluar dari ruangan itu daripada berlama-lama mendengarkan ucapan yang merendahkan orang lain.

Oke, kita analisa kejadian di atas; 

Pertama, saya kecewa dengan dosen itu, padahal saya datang ke ruang itu dengan sopan, mengucap salam dan bertanya tentang keperluan saya dengan baik-baik tapi saya diperlakukan tidak sopan. 

Sebelum dia marah, sebagai pendidik, seharusnya dia bertanya terlebih dahulu kenapa saya tidak mengenakan kemeja, sayangnya dia tidak menanyakan alasan saya mengenakan kaos, dia malah langsung menyalahkan saya. 

Alasan saya mengenakan kaos karena sudah lebih dari 3 hari air di rumah kost mati total, alhasil, semua kemeja saya belum dicuci, jadi saya terpaksa mengenakan kaos. 

Kedua, pada bulan januari hingga februari tidak ada perkuliahan, mahasiswa diliburkan. Entah kenapa, ketika saya datang ke ruang dosen, ruangan itu ramai, tidak seperti pada hari-hari sebelumnya. Dosen yang saya kenal dekat itu pun tidak pernah sama sekali mempermasalahkan penampilan saya, karena beliau tahu bulan ini sedang libur.

Ketiga, saya sangat menyayangkan sikapnya terhadap saya, saya kecewa, kalaupun dia tidak suka dengan penampilan saya, bukankah ada cara lain yang lebih beretika tanpa harus gembar-gembor kesana-sini sehingga seisi orang dalam ruangan itu tahu. Bisa saja dia memanggil dan menegur saya secara baik-baik tanpa mengeraskan suara sehingga tidak ada orang lain  yang tahu dan saya pun akan mencoba untuk mengerti pintanya.

Setelah saya keluar ruangan, saya menghubungi dosen yang saya kenal, saya mengajak beliau untuk bertemu di luar ruang dosen. Beliau pun mengiyakan permintaan saya, kami bertemu, perkara selesai. Saya senang dengan cara beliau memperlakukan orang lain, beliau mampu menerima perbedaan sebagaimana orang lain berbeda adanya, dan kalian tahu, beliau menanyakan alasan kenapa saya tidak mengenakan kemeja dan tidak buru-buru menyalahkan saya seperti dosen sebelumnya. Selagi berbicang dengan beliau, dosen-dosen lain yang sebelumnya memarahi saya keluar dari  ruangan, mereka melihat saya dengan pandangan sinis, biarlah, itu hak mereka, saya tidak merasa terganggu dengan hal itu.

Masih di hari yang sama, selesai menemui dosen yang saya kenal. Saya pergi ke salah satu mall di Tangerang. Saya dan teman-teman makan siang di Yoshinoya yang ada di mall tersebut.  Saya senang dengan pelayanan di Yoshinoya, mereka menghargai konsumen sebagai mana mestinya. 

Selesai makan, karena hari  sudah sore, kami pun bergegas pulang, ketika berjalan menuju parkiran, ada satu security yang berlari ke arah saya dan memindai tas saya dengan metal detector yang ada ditangannya. 

Saya dan teman-teman agak terkejut, kenapa hanya saya saja yang diperiksa dan yang lain tidak? Kami merasa tidak senang dengan perlakuan petugas keamanan mall tersebut, saya berpenampilan biasa dan teman saya mengenakan baju kantoran. Penampilan kami berbeda, apakah hanya karena penampilan saya yang biasa-biasa ini harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti itu?

Padahal, saya dan teman-teman yang lain sama-sama mengeluarkan uang di mall itu, haruskah saya diperlakukan berbeda? Oh well, sialnya orang-orang seringkali melihat orang lain dari penampilannya, begitu juga petugas keamanan itu, bisa saja saya sebagai konsumen mengadukan security itu atas perlakuannya yang tidak menyenangkan kepada pihak mall. Karena saya sedang buru-buru, saya tidak mau membuang waktu untuk melakukan itu.

Pesan moral yang ingin saya sampaikan adalah;

"Don't Judge Someone From Their Appearance"

Jangan hanya melihat seseorang dari penampilan luarnya. Perlakukanlah orang lain dengan baik dan semestrinya. Kamu tentu senang bila diperlakukan dengan baik dan ramah, bukan? Begitu pula orang lain. Kita tidak akan menemukan orang lain yang benar-benar sama persis dengan diri kita selama hidup. Kenapa? Karena kita lahir pada keluarga yang berbeda, menempuh pendidikan yang berbeda, memperoleh pengalaman yang berbeda, hobi, aktifitas, pekerjaan, sifat yang berbeda pula. Terimalah perbedaan sebagaimana adanya, jangan salahkan orang lain hanya karena ia berbeda denganmu, mereka berbeda memang karena begitulah adanya diri mereka, jangan memaksakan apa yang kamu anggap benar pada mereka sehingga mereka mau menjadi sama sepertimu, justru perbedaan itulah yang membuat kehidupan menjadi berwarna dan bermakna.

Semoga cerita ini bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk pembaca, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk berkunjung dan membaca tulisan ini, thank you my reader :)

Bagaimana menurutmu?

Click to comment