Orang-Orang Yang Tidak Pernah Niat Berbuat Baik Lebih Pandai Berucap Dibanding Mengulurkan Tangannya Untuk Orang Lain

Credit: Bleachfanfiction.wikia.com - Wikia

Jangan makan mie instan melulu, gak sehat, nanti kamu sakit!
Ih, masih kecil udah jadi pemulung, emangnya enggak dikasih uang sama orangtuanya ya?
Kamu anak kota kok mau-maunya sih lanjut ke smp pedesaan kayak gini, kalo aku jadi kamu, aku lebih memilih lanjut smp yang ada di kota.
Niatmu baik, namun kalau itu hanya berhenti diucapan semata, aku tak membutuhkannya, karena, kupikir, ucapanmu itu tak bisa menyelesaikan masalahku, jadi lebih baik kau tutup mulutmu kalau tidak niat membantuku!
- Nata -

Nata adalah teman kecil saya sewaktu masih masa kecil dulu. Kala itu, hidup sedang susah-susahnya, saking susahnya, Nata tidak pernah diberi uang jajan oleh ayahnya. Itu terjadi ketika Nata kelas 4 SD. Semenjak itu, ia tak pernah diberi atau bahkan meminta uang dari ayahnya barang seribu rupiah sekalipun karena ayahnya lebih mementingkan dirinya sendiri dibanding memberi nafkah untuk anaknya.

Kalau ia ingin jajan, ia hanya bisa mengandalkan uang saku sekolah yang diberi oleh ibunya. Kalau beruntung ibunya punya uang lebih, ia masih bisa meminta uang jajan lagi sepulang sekolah, kalau sedang tidak ada, ia lebih memilih untuk mengerti keadaan.  

Suatu ketika Nata berpikiran untuk mencari uang sendiri, dalam pikiran anak kecil sepertinya kala itu, mengumpulkan botol-botol plastik dan menjualnya ke tempat yang menerima barang bekas dengan perhitungan berat per-kilo gram adalah pilihan mudah dan rasional yang bisa dipilihnya. Oleh karena keinginan punya uang jajan, ia pun mulai mengumpulkan botol-botol bekas yang dibuang orang-orang seenaknya di jalanan.

Selama menjalani hari-hari menjadi pemulung botol plastik seusai pulang sekolah, Nata bercerita sebenarnya ibunya tahu apa yang ia lakukan, namun ibunya memilih mengerti keputusan Nata untuk mencari uang jajan lewat memulung.

Nata tahu, sebenarnya ibunya tidak enak hati melihat ia memungut botol-botol plastik untuk uang jajannya. Namun keadaan ekonomi sedang sulit-sulitnya kala itu, bahkan ayah Nata saja tidak mau mengeluarkan uang sedikitpun untuk Nata, oleh karena pertimbangan itu, ibunya membiarkan Nata melakukan apa yang ia ingini.  

Pernah setiap kali ia sedang mengumpulkan botol plastik di jalanan, saudara-saudara dari keluarga ayahnaya memergokinya. Kebanyakan saudaranya kala itu ekonomi mereka sedang sejahtera-sejahteranya, namun bukan berarti mereka senang membantu orang lain semudah mengulurkan bantuan pada saudaranya sendiri seperti Nata.

Sebaliknya, saudaranya itu paling hobi menghina orang lain, tidak hanya saudaranya saja yang berlaku demikian, bahkan orang-orang di lingkungan ia tinggal, banyak orang yang suka menghina orang lain. Karena kesal dengan keadaan, Nata hanya bisa menceritakannya pada teman-teman dekatnya termasuk saya.

----------------- | | ----------------- 
"Aku kerap kali diejek dan dihina oleh mereka, padahal masih saudara, padahal kan kalau mereka tahu aku sedang kesusahan seperti ini, mereka harusnya membantu, bukan malah menghina. Enggak cuma mereka aja, warga tempatku tinggal juga sama aja, suka menghina orang lain yang ekonominya dibawah mereka." - Cerita Nata pada teman-temannya termasuk saya.
----------------- | | ----------------- 

Terkadang, ketika Nata kelelahan dan merasa lapar, ia akan membeli mie instan di warung makan. Dan betul saja, ketika ia sedang makan, ada saja orang yang dengan seenaknya sok menasehati seraya merasa dirinya paling benar namun ia tak membantu seusai ngomong panjang lebar dengan berkata: "Jangan makan mie instan melulu, gak sehat, nanti kamu sakit! Ih, masih kecil udah jadi pemulung, emangnya enggak dikasih uang sama orangtuanya ya?" Kata orang-orang di warung makan itu.

Teman-teman dan saya pun bertanya apa yang ia lakukan saat menghadapi situasi yang tak mengenakkan hati seperti itu.

----------------- | | -----------------
"Pengen rasanya aku ngambil sambel yang ada di warung makan dan aku lempar ke mulut sama mata orang itu biar dia tahu sepedes apa rasanya denger kata-kata menyakitkan itu, tapi sayangnya aku enggak bisa ngelakuin itu, ibu sering berpesan kita harus baik pada sesama, kalaupun ada orang yang enggak baik, jangan dipedulikan dan biar Tuhan yang memberikan balasan yang adil atas ucapan yang menyakitkan hati itu. Yaudah, aku nurut apa kata ibu, jadinya, aku diam aja dan makan mie secepet yang kubisa biar bisa pergi dari tempat itu."

----------------- | | -----------------

Mendengar cerita itu, kami, temannya, hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuknya saja, setidaknya hal itu bisa melegakan hati kecilnya yang sedang terluka. Sesekali kami mentraktirnya jajan makanan ringan khas bocah yang ada di sekolah, momen itu adalah momen terindah dimana kami sebagai temannya bisa melihat senyum leganya. 

Cerita lainnya, ketika kami kelas 6, kami sedang bingung-bingungnya menentukan sekolah pilihan kami, ya, kebingungan khas anak-anak kecil, menentukan smp tempat belajar selanjutnya butuh pertimbangan yang sulit. Hal itu juga terjadi pada Nata.

Nata tidak biasanya terlihat sangat murung, biasanya, mau sesusah apapun keadaannya, ia akan mencoba tegar dan menunjukkan wajah ceria seolah masalah yang ia hadapi bukan hal yang penting. Kami pun mendekatinya dan bertanya mengenai keadaannya.

----------------- | | -----------------
"Aku enggak tahu nih bisa lanjut sekolah atau enggak, uang sekolah yang sudah mati-matian ibu kumpulkan diminta ayah untuk membeli motor sebagai modal usaha jadi ojek, tapi belum ada sebulan motor itu dijual dan uangnya dia pakai semua, ibu meminta ayah untuk menepati janjinya untuk membiayai aku kalau menuruti kemauannya membeli motor dari tabungan ibu, namun alih-alih menepati janji, ayah malah pergi dan enggak peduli sama pendidikanku, ibu jadinya sedih sekarang, oleh karena itu, aku sama ibu besok mau pergi ke rumah kakek dari keluarga ibu, siapa tahu kakek bisa membantuku lanjut sekolah."

----------------- | | -----------------

Mendengar cerita itu, kami jadi turut sedih, untuk anak kecil seumuran kami, tidak ada yang bisa kami lakukan untuk meringankan beban Nata meski dengan patungan uang saku sekalipun, kami pikir itu enggak cukup untuk biayanya sekolah. Kami hanya bisa mentraktirnya jajan seperti biasanya di sekolah sebelum ia pamit pergi keesokan harinya ke pedesaan tempat kakeknya tinggal.

Keesokan harinya, Nata menemui kami semua, teman dekatnya, ini adalah hari terakhir kami bisa bertemu dan bertegur sapa dengannnya, karena setelah hari ini, Nata dan ibunya akan pindah ke tempat kakeknya karena ayahnya tidak mau mengurusinya sama sekali.

----------------- | | -----------------
"Aku mau pamitan dulu sama teman-teman, makasih ya udah sering dengerin ceritaku selama di kelas, terimakasih juga untuk traktiran dari kalian tiap jam istirahat, aku senang sekali, saking senangnya aku selalu kepikiran kalian dan enggak kepengen pisah sama kalian. Tapi gimana ya, keadaan lagi enggak memihak padaku saat ini, yang bisa aku lakukan untuk saat ini adalah: bertahan. Itu saja, dan kuharap, aku bisa merubah masa depanku menjadi lebih baik lagi sehingga aku bisa membantu meringankan beban ibu, aku ingin ngeliat ibu tersenyum senang, oleh karenanya, aku harus bersekolah setinggi-tingginya supaya bisa merubah nasib keluargaku, doakan aku ya teman-teman, aku akan terus mengingat kebaikan kalian, sampai jumpa." -- Setelah mengucap salam perpisahan, Nata beserta ibunya pamit pergi.

----------------- | | -----------------

Saling menasihati memang baik, namun, kembali lagi, setiap perbuatan tergantung dengan niatnya masing-masing, bukan? Termasuk niat menasihati orang lain. Kalau kau hanya memberi nasihat saja tanpa menindaklanjutinya, maaf, saya pikir, hal itu tak akan mengubah keadaan orang yang kau nasihati, sama halnya dengan kasus Nata.

Dalam cerita Nata, meskipun kau memberitahunya kalau memakan mie instan itu tidak baik adalah kebenaran, namun orang yang menasehati tidak tahu keadaan yang dihadapi oleh Nata. Tidak tahu kalau anak sekecil itu harus berjuang bertahan dalam keadaan yang kalau kau tahu, kau pasti tidak ingin bernasib sama atau bahkan kalau bisa menghindarinya.

Setiap kali saya melihat seseorang yang suka sekali menasehati orang lain yang dianggapnya salah, saya selalu teringat dengan Nata, mungkin mereka merasa benar sampai-sampai menganggap dirinya berhak menasihati orang lain, padahal orang yang dinasihati lebih tahu kalau ia tidak membutuhkan nasihat dan memang tidak pernah memintanya.

Click to comment