Mengeluh Di Media Sosial Memang Membuatmu Lega Tapi Hal Itu Tidak Dapat Menyelesaikan Masalahmu

Konten yang kamu baca gratis! Tapi kamu boleh kok kasih tip biar kreator hepi dan makin semangat update bikin konten edukasi buat Kamu;
10k 20k 25k 50k 100k 150k

Mengeluh Di Media Sosial Memang Membuatmu Lega Tapi Hal Itu Tidak Dapat Menyelesaikan Masalahmu
Gambar: Google.com

Facebook, sosial media ini saya temui saat duduk di bangku SMA. Semua teman-teman saya berlomba-lomba untuk mendapatkan banyak follower, tahu kenapa? Saat itu, semakin banyak follower, label keren akan disematkan pada kita. Menyoal sosmed ini, saya kerap kali menemui orang-orang yang selalu mengeluh di jejaring sosial, entah apa motifnnya, yang jelas, saya tidak suka dengan yang namanya mengeluh di facebook dan ketidaksukaan saya  itu, saya pikir sah-sah saja.

Tentu bagi orang yang mengeluh di jejaring sosial, mereka selalu punya pembenaran tersendiri, sedang stress dan meluapkan unek-unek di hati melalui facebook, atau supaya orang lain tahu bahwa dia sedang ada masalah.

Bukannya tidak boleh, tapi statusmu itu bisa saja mengganggu orang lain sampai-sampai orang lain langsung meng-unfollow akunmu. Ya, semua hal yang kita lakukan selalu ada konsekuensinya. Well, saya sendiri bingung kenapa ada begitu banyak orang yang melakukan hal ini, padahal manfaatnya sedikit dan dampak negatifnya lebih besar, seperti menurunkan citra seseorang, karena orang tahu dia pengeluh, orang-orang enggan untuk berteman dengannya, ya, di dunia maya pun demikian, hal itu tetap berlaku karena esensi dari pertemanan di dunia maya sekalipun harus saling menghargai pengguna yang lain.

Sebenarnya ada cara lain dimana kamu bisa mengeluh sesuka hati tanpa batas dan tentunya tidak mengganggu orang lain yang membacanya. Kamu bisa menuliskan keluh kesahmu itu di diary, oh well, diary memang terbukti efektif untuk mencurahkan isi hatimu. Nggak ada satu pun orang yang akan tahu mengenai keluh kesahmu, kamu nggak perlu malu, mengeluhlah sekali-kali tapi jangan di ruang publik, mengeluhlah di ruang privasimu sendiri.
Gambar: Google.com


Kamu juga bisa bercerita dengan orang terdekat seperti keluargamu, kamu bisa menceritakan apapun  yang terjadi padamu, dan terakhir, kamu juga bisa menyampaikan keluh kesahmu lewat do’a seusai menunaikan ibadah, Tuhan tahu kalau kamu sedang kesusahan, makanya berdoalah pada Tuhanmu, supaya Dia mendengar keluhmu. Manusia memang tempatnya keluh kesah, tapi jangan biarkan kebiasaan ini mengganggu orang lain.
Gambar: Google.com

Oh well, kamu bisa saja berargumentasi bahwa kamu punya hak asasi, freedom of speech, jadi kamu bebas menggunakan facebook sesuka hatimu tanpa mempedulikan orang lain. Sayangnya, bukan kamu saja yang memiliki human rights, melainkan semua orang. Semua orang punya hak yang harus dihargai dan tidak diganggu kenyamanannya termasuk saat sedang aktif di sosial media.

Blokir saja, beres kan? Argumen ini ada benarnya, sayangnya jumlah pengeluh di sosial media itu terlalu banyak. Butuh waktu berjam-jam hanya untuk memblokir ratusan orang di sosmed.
Gambar: Google.com

Tujuan sosial media diciptakan adalah mempermudah orang lain untuk berkomunikasi. Saya pikir, semua sosial media punya fitur untuk chatting dan berkirim pesan. Saya lebih nyaman menggunakan sosial media manapun untuk kebutuhan berkomunnikasi dibanding update status yang kesannya ingin unjuk diri, memamerkan kehidupan pribadi, foto-foto di tempat bagus, dan momen-momen lainnya. Saya merasa tidak nyaman kalau melihat timeline dan isinya hanya keluhan, saya pikir dengan mengeluh di sosial media, masalah itu tidak akan selesai.

What do you think? Speak your mind. :)

Suka dengan konten ini? Yuk kasih rating terbaikmu atau kirim tip donasi sebagai bentuk apresiasi kepada kreator;


10k 20k 25k 50k 100k 150k

Disclaimer untuk pembaca;

Hak Cipta Konten

Semua lisensi hak cipta kepemilikan konten yang ada di website ini adalah milik Daily Blogger Pro. Dilarang menjiplak (Copy-Paste), Mencuri Konten, atau Diterbitkan Ulang di Website atau blog lain. Apabila kamu ingin menggunakan konten kami sebagai referensi karya ilmiah baik itu; jurnal, skripsi, buku komersil, harap ajukan izin terlebih dahulu kepada admin website DBP.

Aturan Berkomentar

Pembaca bebas berdiskusi dan konsultasi terkait materi edukasi sesuai topik konten. Semua komentar akan dimoderasi dan hanya komentar yang relevan saja yang akan terbit, untuk komentar spam yang dikirim spammer, maaf, komentar Anda tidak akan lolos dan semua link aktif di komentar sudah dinon-aktifkan melalui sistem website kami.