Pengalaman Pertama Jadi English Debater - EDS UHAMKA #1
![]() |
Pengalaman Pertama Jadi English Debater - EDS UHAMKA #1 - Foto Pribadi |
Sebelumnya kalau kamu pernah membaca tulisan berikut: Teman Yang Baik Itu Dapat Menerima Sebagaimana Adanya Diri Kita di blog ini. Kamu pasti tahu saya adalah seorang introver, selayaknya introver pada umumnya, saya tidak banyak bicara kecuali dengan teman baik dan sudah sangat dekat, saya bisa ngomong panjang lebar dari siang sampai malam. Pertanyaannya, gimana kalau bocah introver ikutan debat bahasa Inggris? Oh well, jawabannya pasti banyak dan beragam, karena saya bukan satu-satunya bocah introver di dunia ini, masih banyak bocah introver lainnya.
Ceritanya, ketika saya semester 3, kebetulan saya baru pulang kuliah, saya baru saja melempar tas ke tempat tidur dan bersiap tidur siang di asrama. Seketika, ponsel saya berdering, saya angkat, telpon itu dari kakak kelas saya, ka Jodies.
Gue:
Halo, sorry, ini siapa ya?
Ka Jodies:
Ini gue, Jojo. Lo dimana gung?
Gue:
Gue di asrama kak, kenapa?
Ka Jodies:
Bisa ke depan gedung A sekarang? Gue tunggu ya -- sambungan telpon pun diputus.
Gue:
(Oh well, ini ada apa lagi? Gue kan mau istirahat, yaudah deh gue kesana).
Saya langsung bergegas menuju tempat pertemuan. Saya sampai, saya melihat dua orang, iya, keduanya adalah kakak kelas saya, ka jodies dan suprapto. Tanpa basa basi, ka jodies yang dipanggil akrab dengan sebutan Jojo ini langsung bilang kalau saya diminta untuk menggantikan ka suprapto untuk mengikuti kompetisi debat bahasa Inggris. Mereka membujuk saya dan jawabannya, oh well, saya menerima permintaan mereka padahal sebenarnya saya tidak suka dengan debat bahasa Inggris pada waktu itu.
Betapa kagetnya saya ketika saya bertanya kapan kita technical meeting dengan panitia lomba dan jawabannya adalah besok. Oh well, apa maksudnya semua ini, tapi yasudalah, hidup harus terus berjalan dengan tantangan baru yang mampir tanpa kita undang.
Esoknya, saya mengikuti technical meeting dengan ka Jojo. Kami berkumpul di aula kampus A, Tarbiyah, UIN Jakarta. Dalam acara ini, kami diberikan simulasi seperti apa debat bahasa Inggris itu, sistemnya, tugas pembicara 1 sampai 3, dan mosi yang diperdebatkan, sisanya, kami diberitahu untuk datang lagi esoknya, tempatnya di kampus B, Fisip, UIN Jakarta,
Anyway, nama lomba ini diberi nama BLANCON, event ini diselenggarakan oleh UKM FLAT UIN Jakarta, dalam lomba ini tidak hanya ada lomba English Debating saja, ada juga news report dan speech. Kami juga mengikutsertakan peserta di kedua lomba itu, ka Icha berpartisipasi dalam lomba newsreport sedangkan peserta speech juga kakak semester saya, saya tidak mengenalnya sama sekali tapi saya benar-benar kecewa dengan orang itu, dia pada awalnya begitu antusias dan bersemangat merengek minta diikutsertakan dalam lomba speech tapi kenyataannya, ketika kami sudah memberikan dia kepercayaan, dia tidak datang pada hari pelaksanaan.
Hari pertama, kami berkumpul di aula kampus B, kami menunggu mosi untuk debat dan penentuan lawan tim. Di ronde pertama, tim saya harus berhadapan dengan mahasiswa angkatan kelautan. Oh well, melawan kumpulan orang-orang kekar, saya tidak bisa membayangkannya kalau harus adu otot, jelas saya yang kalah, untungnya, lomba ini yang diadu adalah argumen, fiuh, lega. Tim saya mendapat posisi sebagai pihak pro, lawan kami mendapat posisi oposisi sedangkan mosi yang diperdebatkan adalah This house would legalize gay marriage -- dewan setuju melegalkan pernikahan pria sesama jenis -- Homoseksual. Oh well, saya nggak ngerti harus ngebuat argumen apa untuk mosi yang sensitif seperti ini, mau dibilang tidak suka dengan materinya sekalipun, debaters harus memposisikan dirinya senetral mungkin dan meyakinkan juri untuk memihak pada argumen timnya.
Dalam ajang debat bahasa Inggris, setiap pembicara diberi waktu 7 menit 30 detik, selama durasi itu kita harus menyampaikan argumen kita. Kita juga bisa menyanggah argumen lawan kalau sudah 1 menit, batas menyanggahnya adalah 5 menit, jadi, selama belum 6 menit, kita masih bisa menyanggah tapi dengan satu syarat, kita harus meminta izin terlebih dahulu, bila diizinkan, itu berarti kita bisa menyampaikan sanggahan kita, jika tidak, itu berarti kita harus menerima dengan lapang dada, kita tidak boleh menyanggah. Ini bagian yang saya suka dari debat bahasa Inggris, ada etika saat ingin menyampaikan sanggahan. Tidak seperti debat kusir yang ditampilkan televisi dimana orang lain sedang berbicara boleh dipotong seenaknya.
Di sesi pertama, kami memenangkannya, argumen yang kami usung adalah setiap orang punya hak asasi manusia, human rights, dimana dia punya kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa intervensi siapapun.
Ronde kedua, kami kalah, sesi ini dimenangkan oleh tim debat UIN Syek Nurjati Cirebon.
Ronde ketiga, kami melawan tim debat dari Untirta, mosinya adalah dewan setuju bahwa semua pejabat pemerintahan harus menggunakan kendaraan publik untuk mengurangi polusi udara. Dalam sesi ini, saya sempat down karena argumen lawan cukup kuat, tapi, sesi ini berhasil kami menangkan.
Ronde keempat, saya harus berhadapan kembali dengan tim yang mengalahkan tim kami di ronde kedua. Mosinya adalah dewan setuju bahwa ibukota Indonesia harus dipindahkan ke Kalimantan. Sayangnya, kami kalah dan hanya bisa sampai quarter-final saja. Itu berarti, tim kami tidak dapat masuk ke ronde berikutnya.
Selesai ronde keempat, saya ngobrol-ngobrol dengan tim dari UIN, saya penasaran bagaimana cara mereka latihan debat. Tidak hanya itu, saya juga dikenalkan dengan pelatihnya, usianya tidak jauh atau malah sama dengan ka Jojo. Namanya, Kiki, berhubung Cirebon kental dengan bahasa sundanya, jadi saya memanggilnya dengan nama Teh Kiki. Dia sempat memperhatikan lambang organisasi yang ada di almamater saya, lambang itu, logo himpunan mahasiswa bahasa Inggris di prodi saya, saya memang mengikuti himpunan mahasiswa. Dan Teh Kiki pun menanyakan posisi saya di himpunan sebagai apa, saya tidak langsung menjawabnya karena saya harus pulang tapi saya berjanji untuk bertemu dengannya lagi esok hari.
Esok harinya, saya datang siang karena saya tidak lolos dan saya ingin menonton tim yang masuk final saja. Dua tim yang lolos ke babak grand-final adalah Untirta dan UIN Yogyakarta. Pertandingan ini dimenangkan oleh tim debat Untirta, sedangkan UIN Yogyakarta menempati posisi runner-up.
Selesai lomba, panitia mengumumkan bahwa penutupan BLANCON 2013 akan dilaksanakan jam 7 malam. Saat pengumuman itu, jam baru menunjukkan pukul 2 siang, jadi saya harus menunggu 5 jam sebelum penutupan.
Kemarin, saya berjanji untuk bercerita kepada Teh Kiki soal posisi saya di himpunan mahasiswa beserta program kerjanya. Saya bilang saja, saya menjadi ketua umum di himpunan, setelah itu, kami bercerita panjang lebar soal kampus dan hal lainnya sampai jam 5 sore. Entah, saya baru mengenalnya sehari tapi saya nyaman ngobrol dengannya, makanya saya bisa ngobrol selama berjam-jam dengannya. Dua jam lagi acara penutupan dimulai, kami berdua yang masih di kampus B langsung bergegas menuju lokasi penutupan acara, tepatnya di kampus A.
Ketika sampai, kami sudah ditunggu oleh tim debat yang dilatih oleh Teh Kiki. Apa yang terjadi setelah itu? Mereka menyoraki kami dan berkata "cie." Oh well, apa coba maksudnya.
1 jam sebelum penutupan, salah satu anggota tim debat yang dilatih Teh Kiki, namanya Echa, dia mengajak saya untuk berkunjung ke ruang UKM. Kebetulan jarak aula dengan ruangan UKM berdekatan, sekretariat UKM pertama yang kami singgahi adalah UKM FLAT, salah satu UKM di UIN Jakarta yang membidangi bahasa asing dan acara ini pun mereka yang menyelenggarakannya. Setelah itu, Echa mengajak saya ke UKM Keislaman, oh well, dia kenal dengan orang-orang di UKM itu sedangkan saya tidak. Daripada diam nggak jelas, saya ajak mereka ngobrol aja sambil bercanda sampai-sampai si Echa heran. Begitu pamit dari UKM itu, Echa langsung menarik saya dan bertanya:
Echa:
Kamu kenal sama orang-orang yang ada di UKM itu?
Gue:
Nggak, gue nggak kenal sama mereka sama sekali.
Echa:
(Ketawa) haha ... kamu lucu deh. Aku kira kamu kenal sama mereka tapi ternyata nggak. Mana keliatan asyik banget lagi ngobrolnya.
Gue:
Echa sih enak kenal sama mereka, lah gue gimana? Daripada gue diem aja, mending gue ajak mereka ngobrol.
Echa:
(senyum sambil nyengir--nyengir)
Nggak terasa, acara penutupan pun dimulai. Sesi demi sesi berlalu, sertifikat pun dibagikan kepada semua tim yang datang. Setelah itu, saya sedih, baru bertemu dengan teman baru yang menyenangkan tapi harus berpisah begitu saja, mungkin setelah ini, saya bakalan kangen banget dengan mereka, miss you guys. Khususnya buat Teh Kiki dan Echa, Miss You. :)
Pengalaman pertama menjadi English Debater, saya mendapatkan banyak hal seru dan menyenangkan. Saya mendapat pengetahuan baru tentang public speaking, sistem debat dan tugas dari masing-masing pembicara, menyusun argumen dalam waktu singkat saat building case, mengasah kemampuan berpikir kritis dan semua itu tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan. Satu lagi, teman baru. :)
Bagaimana menurutmu?
Support Daily Blogger Pro
14 komentar
Tp salut ama kamu sob.. TOP d(^_^)b
Pas baru pertama kali semua juga keringet dingin alias grogi, gue juga gitu dulu, tapi semakin sering kita latihan sama ikut lomba, insyaallah kita nggak bakalan nervous lagi. :)
Nah ini yang aku suka dari debat bahasa Inggris, mosi-nya itu seringkali mengangkat isu-isu yang sensitif. Dan saat kita berada di tim yang harus memberikan argumen berlawanan dengan pendapat pribadi kita, itu bakalan jadi tantangan tersendiri :)
Btw, aslinya kamu pro atau kontra sama mosi homoseksual itu?
Halo, salam kenal juga Dara. Well, Dara ambivert? Saya malah baru denger istilah karakter itu, makanya langsung saya search di google dan ternyata itu gabungan antara introvert sama ekstrovert ya, tapi suka moody gitu ya, hehe. :)
Gue dapet posisi pro, kebayang nggak tuh, dapet mosi kayak gitu, ya tapi mosi yang sensitif gitu ngebuat kita jadi open-minded person. Thanks anyway ya Dara udah maen kesini. :)
Aku kalau mosi begitu dapat bagian pro, pasti bakalan nyerah deh haha. Gimana pun aku nyoba, kalau itu bertentangan sama prinsip aku, gak bakalan bisaaa. Huhuhu.
Yoih. Sama-sama.
Itu belum seberapa, coba kalo lomba English Debate.y IVED sama NUDC, oh well, mosinya ada yang tentang rasisme, agama, dan mosi-mosi sensitif lainnya. Emang susah sih kalo kita dapet posisi sebagai government alias pro, harus mikir out of the box, mau seenggak bisanya kita sekalipun, at the end, kita bakalan tetep ngebuat argumen kan, nggak mungkin ke podium nggak punya 1 argumen pun.
Anyway, lo udah ikut lomba English debate berapa kali Ra?
Ikut yang IVED sama NUDC juga? Mantep ih. Itu kan keren banget.
Iya, mau gak mau kan kita tetap bakalan punya argumen, sih. Tapi berasa ngebohongin hati nurani gitu, haha. Dan aku beneran gak mampu kalau harus gitu. *lalu tobat dari dunia debate*
Iya keren, keren banget persaingan dan atmosfer kompetisinya, next post, gue ceritain deh detailnya tentang dua lomba itu. :)
Lah, emang lo udah resign dari dunia debate Ra? Belum kan? Hehe
Emg setiap kejadian ada hikmahnya kok. Bersyukur :)
Kalo ngomong pake bahasa Inggris ya gue nyaman, jadinya sifat introvert gue nggak begitu ngaruh, yeah you're right.
Tapi overall seru kan? Gimana, ketagihan debate lagi?
Anw, aku Dhilah yang postingan blognya kamu komen trus ngasih alamat blog kamu :D Salam kenal!
Yeah, you're right. Sekali masuk ke dunia debate, gue ketagihan buat ikut, ikut dan ikut kompetisi lagi. Next time, gue ceritain lomba lainnya ya dil.
Siap, thanks udah maen kesini ya. Ntar gue maen lagi deh ke blog lo thank Dillah. :)
Nice post, Agung. Emang seru banget kalo ikut debat bahasa Inggris. Asal nggak dipakai untuk men-debat guru matematika, hehehe...
Anyway, salah satu manfaat yang saya rasakan dari Debat : cara penyampaian argumen-nya bisa juga dipraktekin dalam menyusun materi pidato.
Lah jangan dipake buat nge-debat guru matematika lah, nanti disuruh maju ke depat ngerjain soal logaritma dan temen-temennya loh, hehe. :)
Itu pengalaman gue sewaktu semester 3 dev, iya bisa sih, gue pernah nyoba juga, belum menang sih, ntar coba lagi buat argumen buat pidato.