Kenapa Organisasi Yang Kamu Ikuti Tidak Bisa Membuatmu Berkembang Menjadi Pribadi Yang Lebik Baik Dari Sebelumnya?

Kenapa Organisasi Yang Kamu Ikuti Tidak Bisa Membuatmu Berkembang Menjadi Pribadi Yang Lebik Baik Dari Sebelumnya?
Kenapa Organisasi Yang Kamu Ikuti Tidak Bisa Membuatmu Berkembang Menjadi Pribadi Yang Lebik Baik Dari Sebelumnya?
Kenapa Organisasi Yang Kamu Ikuti Tidak Bisa Membuatmu Berkembang Menjadi Pribadi Yang Lebik Baik Dari Sebelumnya? - Dokumen Pribadi

Pernah enggak kamu memikirkan kenapa sih organisasi yang sedang kamu ikuti sekarang ini belum atau malah tidak sama sekali membuatmu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya? Pasti pernah, khususnya kamu yang sedang atau pernah menggeluti dunia organisasi mahasiswa.

Selama 3 tahun terlibat aktif di kelembagaan mahasiswa, sebut saja, himpunan mahasiswa, badan eksekutif mahasiswa, dan sekarang komunitas debat bahasa Inggris. Saya banyak belajar dan menemukan permasalahan yang kerap kali di alami oleh organisasi, tidak lain dan tidak bukan, masalah itu berasal dari anggota organisasi itu sendiri, maka dari itu, saya ingin berbagi pengalaman ini dengan pembaca saya di blog ini, iya, kamu, my readers. :)

Idealnya, organisasi yang baik dan maju itu kinerjanya terus berkembang secara berkelanjutan, namun kenapa masih banyak organisasi-organisasi baik di dalam kampus maupun luar kampus yang masih berjalan di tempat seakan-akan tidak ada kemajuan sama sekali? 

Kita sudah mengetahui bahwa organisasi itu kegiatannya tidak akan lepas dengan yang namanya program kerja, kinerja anggota organisasi, dan manfaat yang bisa diberikan dari organisasi tersebut. Kalau organisasi ingin memberikan manfaat kepada lingkungan sekitarnya, ia harus melalui langkah demi langkah sebelum sampai ke tujuan utamanya, jika di urutkan seperti ini urutannya:

1. Program Kerja
2. Kinerja Anggota
3. Manfaat

Pertama, semua organisasi pastinya memiliki program kerja. Program ini harus dirumuskan di awal kepengurusan.

Kedua, begitu program kerja sudah ada, tugas selanjutnya adalah anggota yang aktif dalam organisasi harus mengusahakan program-program yang sudah dibuat berjalan dengan lancar dan sukses.

Ketiga, barulah organisasi itu dapat memberikan manfaatnya kepada lingkungan sekitar melalui program kerja yang sudah dibuat dan dilaksanakan.

Terlihat mudah. bukan? Sayangnya, dunia kita tidak se-ideal itu. Hal-hal yang harusnya bisa dipermudah tapi seringkali dipersulit, oleh siapa? Anggota!

Sejalan dengan tema artikel ini, kenapa kamu sebagai anggota dari sebuah organisasi tidak merasa berkembang sama sekali? Ada banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya pernyataan itu. Apa saja faktornya:

Pertama, kamu mengikuti organisasi tanpa tujuan yang jelas, lebih tepatnya hanya ikut-ikutan teman saja. Tipe anggota ini, begitu anggota lain yang diikutinya berhenti, maka dia juga akan berhenti. Pertanyaannya, kalau kamu berhenti karena temanmu keluar, apakah kamu akan mendapatkan manfaat dari organisasi itu? Tentu saja tidak, bukan? kenyataannya, berdasarkan pengalaman saya, tipe anggota seperti ini tidak akan bertahan lama karena mereka terlalu ketergantungan dengan teman yang mengajaknya masuk ke organisasi, ia tidak mampu dan mau beradaptasi dengan anggota lain karena memang ia merasa anggota lain bukan temannya, lebih tepatnya teman yang mengajaknya masuk ke organisasi ini.

Kedua, kamu mengikuti organisasi karena ingin dikenal. Tipe anggota organisasi ini biasanya akan ribut sekali ketika menjelang pelaksanaan program kerja, dia sibuk menceritakan kepada orang lain kalau ini loh acara miliknya, acara ini keren loh. Kenyataannya, anggota yang satu ini sama sekali tidak pernah memberikan kontribusi sama sekali ketika tidak ada acara, padahal, organisatoris tidak melulu mengurusi persoalan program kerja semata, lebih esensial lagi, seperti menyiapkan regenerasi selanjutnya, mengevaluasi kinerja organisasinya, memperluas link organisasi, memikirkan manfaat dari keberadaan organisasinya, meraih prestasi, see? Banyak hal yang harus dikerjakan dalam organisasi. Oh well, anggota yang hanya mencari ketenaran, eksistensi, dan nama besar seringkali merasa telah berbuat banyak tapi sebenarnya dia tidak memiliki apa-apa selain memamerkan diri kepada orang lain karena memang tujuannya ingin terkenal.

Ketiga, kamu tidak akan mendapatkan manfaat sama sekali kalau kamu malas. Kamu tahu kan apa dampaknya dari sifat malas? Iya, penundaan. Semakin banyak tanggung jawab yang kamu tunda dengan alasan malas, semakin banyak kemunduran yang akan kamu alami, tidak hanya kamu yang mengalami kemunduran itu namun organisasi yang kamu tempati juga mengalami hal demikian, hal itu terjadi karena kamu malas. Kenyataanya, setiap orang memang memiliki potensi malas, namun kalau memang kamu malas mengurusi persoalan ini itu dalam organisasi ada baiknya kamu keluar saja ketimbang tetap bertahan tapi kamu hanya menjadi penghambat di organisasi itu. Logikanya seperti ini, kalau memang kamu tidak mau pusing mengurusi persoalan yang harus dikerjakan di organisasi, kenapa juga kamu bergabung dengan organisasi itu, kalau memang malas, lebih baik tidak ikut organisasi sama sekali.

Selain ketiga tipe anggota yang saya sebutkan di atas, masih ada tipe-tipe lainnya seperti anggota yang sedang jenuh lalu menghilang, mereka memang awalnya bersemangat sekali di organisasi, punya mimpi untuk melakukan hal-hal besar untuk kemajuan organisasinya, namun di tengah jalan, ia merasa jenuh, sampai-sampai keluar dari organisasi. Begitulah kenyataannya, banyak anggota yang keluar hanya karena alasan jenuh. Sekarang begini logikanya, semua kegiatan apapun yang kamu lakukan pasti mempunyai titik jenuhnya masing-masing. Kamu hobi main futsal, pasti ada titik jenuhnya, kamu hobi main basket pasti ada jenuhnya, kamu suka  menulis pasti ada titik jenuhnya, kegiatan apa sih yang tidak memiliki potensi jenuh? Tidak ada bukan, alangkah baiknya kalau memang kamu ingin mendapatkan manfaat lebih dari organisasimu, bertahanlah sampai periodemu selesai, tidak peduli sedang jenuh atau tidak, tanggung jawab harus terus dijalankan dengan amanah.

Terakhir, anggota yang hanya numpang nama di SK, tipe yang satu ini keberadaanya sangat tipis, ia hanya ada ketika pelantikan dan sesekali datang di rapat, selebihnya dia tidak pernah muncul sama sekali, bagaimana bisa orang yang tidak pernah terlibat aktif dalam organisasi ingin mendapatkan manfaat dari organisasi yang ditempatinya, tidak masuk akal, bukan? Kenyataannya, sewaktu saya aktif di badan eksekutif mahasiswa, di SK tertera jumlah anggotanya 64 orang! Namun anggota yang aktif hanya 25 orang, selebihnya absurd, tidak jelas orangnya, hanya ada nama di SK.

Lalu, sebagai anggota yang baik, apa yang seharusnya dilakukan supaya tidak hanya memberikan manfaat untuk kemajuan organisasi tapi kamu juga memperoleh manfaat tersebut?

Jawabannya mudah, jadilah anggota yang berkontibusi aktif di dalam organisasi.

Enggak peduli posisimu sebagai apa di organisasi, mau itu ketua, wakil, bendahara, sekertaris, ketua bidang, sekertaris bidang, atau bahkan anggota, kamu akan tetap mendapatkan manfaat berupa fasilitas pengembangan diri asalkan kamu berkontribusi terhadap organisasi yang kamu tinggali saat ini.

Kalau kamu berkontribusi itu berarti kamu melakukan usaha, nah dari kegiatan yang kamu usahakan itulah kamu akan dibimbing oleh pengalamanmu di organisasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Bagaimana menurutmu?