Uluran Tangan Yang Terhenti Oleh Prasangka

Uluran Tangan Yang Terhenti Oleh Prasangka
Uluran Tangan Yang Terhenti Oleh Prasangka - Visualhunt

Teman, dalam artikel ini saya ingin mengisahkan cerita dari salah seorang adik kelas saya, Fahri (bukan nama sebenarnya). sebagai informasi saja, Fahri mudah kelelahan jadi sewaktu-waktu vertigo dan darah rendahnya bisa kambuh begitu saja.

Judulnya seperti yang sudah kamu baca diawal; "Uluran Tangan Yang Terhenti Oleh Prasangka." Apa maksud dari judul ini? Dan Apa yang dialami oleh Fahri sehingga cerita ini sampai padamu dalam post artikel kali ini? Yuk dismak. The story begin ...

Selepas beraktifitas seharian entah itu kerja atau kuliah tentunya melelahkan, bukan? Apalagi kalau itu di bulan puasa suci Ramadhan. Namun, semua lelah itu akan terbayar kala kita pulang dan berbuka puasa bersama orang tersayang di rumah, keluarga.

Sebelum Fahri pulang, ia menyempatkan dulu bermain dan berbuka bersama di kostan saya dan huraira. Jam 9 malam, akhirnya ia berpamitan dan bergegas pulang. Selama di perjalanan, tak ada hal aneh yang terjadi. Fahri melewati jalan yang sama dengan jalan yang dilalui ketika berangkat ke kampus.

Tidak lebih dari 15 menit perjalanan, ia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, tiba-tiba saja pandangannya hilang dan semuanya menjadi gelap sedangkan ia masih mengendarai sepeda motornya, dan saat itulah ia menyadari jikalau vertigo dan darah rendahnya kambuh. 

Lalu, bagaimana kelanjutan ceritanya? Keputusan apa yang diambil oleh Fahri dalam keadaan yang tidak menguntungkannya itu? 

Keputusan terbaik yang bisa ia pikirkan kala itu ialah memperlambat laju motornya sambil mengarahkan kendali motornya ke kiri supaya bisa menepi, ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, ia hanya fokus pada satu hal, yakni menepi supaya bisa selamat.

Tak disangka-sangka, motor yang dikendarainya menabrak pohon besar, tidak terlalu keras karena kecepatan motornya hanya 20 Km/Jam, saat ia jatuh itulah, pandangannya mulai kembali meskipun hanya sedikit dan berbayang, ia bisa melihat dengan jelas, ada 2 pengendara lain yang berhenti tidak jauh dari tempatnya jatuh, mereka hanya melihat tanpa melakukan apapun, alih-alih bergegas menghampiri dan menolong adik kelas saya ini, mereka hanya saling pandang satu sama lain dan berlalu begitu saja meninggalkan Fahri yang tak berdaya terkapar dipinggir trotoar jalanan Jakarta.

Sesaat, Fahri masih sadar, ia langsung merogoh ponselnya dan menelepon huraira, teman kost saya.

Fahri: "Oi (nama panggilan akrab Huraira), gue kecelakaan nih, di Kramat Jati, bisa minta tolong jemput gue enggak?" - - - seketika itu sambungan ponselnya mati.

Huraira: "Halo ri, iya bisa, nanti gue sama bang Agung jemput lo ke Kramat Jati, tapi lo gapapa kan?"

Fahri: "Sambungan telpon terputus . . ."

Oh well, kami berdua khawatir dengan keadaan Fahri sekarang, pasalnya ia tak menjawab pertanyaan bagaimana keadaannya sekarang. Kami pun bergegas pergi menuju Kramat Jati, Jakarta Timur. Huraira yang membawa motor dan saya yang memperhatikan trotoar pinggiran jalan dengan harapan bisa menemukannya. 

10 menit berlalu, akhirnya kami bertemu dengannya, rupanya dia sudah tersadar, ia sedang duduk sendiri di pinggir jalan, sedangkan motornya masih tergeletak di bawah pohon besar.

Saya: "Ri, gimana keadaan lo? Lo gapapa kan?"

Huraira: "Iya ri, lo enggak kenapa-napa kan? Udah, malem ini lo nginep aja di kostan gue, kalo balik ke jakpus, masih jauh. Udah, biar motor lo gue yang bawa, lo berdua sama bang agung ya"

Fahri: "Oke."

Sesampainya di kostan, Fahri pun menceritakan pada kami jikalau vertigo dan darah rendahnya kambuh ketika ia sedang mengendarai sepeda motor. Yang ia ingat jelas adalah, sesaat sebelum ia tak sadarkan diri setelah menabrak pohon besar, jatuh, dan ada dua pengendara motor lain yang ikut berhenti, namun mereka tak menolongnya, mungkin mereka berpikir adik kelas saya ini sedang mabuk dan menabrakkan dirinya ke pohon pinggir jalan, makanya mereka pergi berlalu tanpa memberikan uluran tangan yang sebenarnya benar-benar dibutuhkan oleh Fahri.

Sedari kecil, kita selalu diajari untuk menolong sesama, terlebih orang yang sedang benar-benar membutuhkan pertolongan, namun realitasnya, dua pengendara itu hanya berhenti pada prasangka mereka yang belum benar-benar terbukti benar tanpa menanyai adik kelas saya ini dan menolongnya.

Oh well, orang-orang lebih suka menghakimi daripada bertanya kenapa seseorang mengendarai motor yang tak seimbang berjalan pelan menepi dan menabrak pohon, they just judge someone from their cover, padahal apa-apa yang tampak di permukaan belum tentu benar apa adanya seperti yang mereka pikirkan. Namun, prasangka mereka begitu kuat sampai-sampai tega meninggalkan orang yang benar-benar membutuhkan uluran tangan.

"Don't judge someone from their cover"

Terimakasih untuk Fahri telah mengizinkan saya mempublikasi ceritanya melalui artikel di blog ini. Dan untuk pembaca, semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. :)

Bagaimana cerita ini menurutmu?

Click to comment