Dewasa Itu Kalau Kau Sudah Berkeluarga Dan Punya Anak, Benarkah?

 Dewasa Itu Kalau Kau Sudah Berkeluarga Dan Punya Anak, Benarkah?
Photo via Visual Hunt



Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tak pantas dijalani.
Socrates

Selama hidup, kamu akan diajak untuk bertumbuh dan terus berkembang dari hari ke hari hingga membentuk kepribadianmu yang sekarang ini. Kamu mengenal kebaikan, begitu pula keburukan, sama halnya sifat kekanakan dan dewasa. 

Dunia ini sudah begitu bising dengan orang-orang yang menyuarakan dirinya lebih dewasa dibanding orang lain tanpa melihat dengan jujur jauh dalam dirinya, apakah orang-orang itu pernah memikirkan perbuatannya itu kekanakan atau dewasa.  

Oh well, orang-orang brengsek itu bisa saja mengklaim bahwa dirinya sudah benar-benar dewasa sampai-sampai segala perbuatannya tidak pernah salah layaknya malaikat dengan memberikan berbagai macam argumentasi dari mulut busuknya, bukan perbuatannya. 

Argumentasinya beragam, mulai dari merasa paling Tua, merasa sudah lebih hebat hanya karena telah berkeluarga, dan sudah punya anak. Padahal ketiga hal tersebut biasa saja dan tak ada istimewanya sama sekali karena saya percaya kalau semua orang pasti akan mengalami proses menikah, berkeluarga, dan memiliki penerus dari garis keturunan kita, dan oh well, soal umur, semua orang akan menua dengan sendirinya.

Percayalah, orang-orang brengsek ini hanya menggunakan kata “dewasa” untuk membenarkan perbuatan kesewenangannya saja dan tentu saja ini tidak benar. Karena kita percaya, dalam satu perbuatan kesewenangan pastinya ada orang lain yang tersakiti olehnya, rasa sakit yang tak memberikan goresan luka berdarah namun membekas dalam kalbu dan akan terus terkenang sepanjang waktu selama ia masih bernafas.


Malam itu saya dan naufal berkunjung ke salah satu kost teman kami, sebut saja namanya Riko (bukan nama sebenarnya). Kami menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas kuliah, membaca buku, atau terkadang melepas lelah dengan canda tawa ditempat kostnya. Lingkungan sekitar kost Riko selalu gaduh, anak-anak kecil dan remaja sering berkeliaran bermain di malam hari mulai pukul 6 sore hingga pukul 12 malam.

Terkadang kami berpikir anak-anak ini seperti tidak pernah dididik sama sekali oleh orangtuanya karena selalu berulah tiap hari. Padahal biasanya pada jam 6 sore anak-anak seumuran sekolah dasar dan remaja itu seharusnya belajar atau melakukan kegiatan yang berguna untuknya di rumah, dengan bimbingan orangtua mereka tentunya, namun mereka ini dibiarkan bebas tanpa pengawasan karena orangtua mereka lebih sibuk bekerja dan mencari uang tanpa tahu kelakuan anaknya yang selalu berulah.

Ketika saya, naufal, dan riko sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada suara benda jatuh dengan keras, sebegitu kerasnya suara itu sampai-sampai kami mengira pagar depan kost riko jatuh. Langsung saja, kami bertiga keluar kost dan melihat apa yang terjadi.

 
Oh well, ternyata asal suara keras itu datang dari motor riko yang sudah terjatuh di tanah, saking kerasnya motor itu jatuh, spion motornya rusak parah hingga ke pangkal besinya, anak-anak yang sedari tadi bermain sepatu roda berhambur pergi menjauh dari halaman kost riko seakan mereka bukan pelakunya, kami pun menanyai anak-anak itu secara baik-baik siapa yang mendorong motornya riko, dari jawaban polos dan jujur mereka, anak kecil dengan inisial nama X yang mendorong motor riko hingga terjatuh (saya menggunakan subjek X untuk lebih mempermudah penyebutan subjek dalam cerita supaya lebih mudah dipahami).

Anak-anak yang kami tanyai itupun dengan sukarela mau mengantarkan kami ke rumahnya. Kami bertigapun sepakat untuk mengikuti mereka ke rumah si x ini, kami ingin orangtua si anak ini bertanggungjawab atas perbuatan anaknya dan mau menasehati anaknya supaya tidak lagi bermain sepatu roda di depan kostnya riko. Sesampainya di rumah si x, anak-anak yang mengantarkan kami mundur beberapa langkah, menjaga jarak, mungkin mereka takut kena omelan dari orangtua si x karena mereka mengantarkan kami ke rumah si x, tapi mereka tetap berdiri memandangi di belakang kami. Riko mengetuk pintu rumah si x, keluarlah ibu si x. Kira-kira seperti inilah percakapan antara riko dan ibu si x:


Riko: Assalamualaikum bu.


Ibu si x: Walaikumsalam. Ada apa ya mas?


Riko: Maaf nih bu malam-malam begini kami bertamu ke rumah ibu, tapi ada perihal penting yang ingin kami sampaikan terkait anak ibu.


Ibu si x: Memangnya anak saya kenapa?


Riko: Anak ibu tadi main sepatu roda di depan halaman kost saya, lalu dia mendorong motor saya sampai jatuh ke tanah bu…



Belum sempat riko meneruskan penjelasannya hingga tuntas, ibu si x ini malah memotong pembicaraan begitu saja.



Ibu si x: Saya enggak tahu ya mas, kan saya juga baru pulang kerja, dan saya juga enggak percaya sama tuduhan mas ini kalau anak saya mendorong motor punya mas, mana mungkin anak saya yang sekecil ini bisa ngedorong motor mas yang lebih gede dibanding badannya, kalau enggak sengaja kedorong pas main sepatu roda itu baru saya percaya. Emang masnya punya bukti kalau anak saya yang dorong?



Riko: Ibu bisa tanya ke anak-anak yang mengantar kami ini bu, mereka ada di halaman kost saya pas anak ibu ngedorong motor saya sampai spion kiri motor saya rusak sampe pangkal besinya. Terus ibu mau tanggungjawab enggak?



Ibu si x: Alah, saya tetep enggak percaya, masnya aja yang parkir motornya sembarangan, motornya distandar satu kan?



Riko: Iya, motornya emang saya standar satu.



Ibu si x: Nah itu, masnya yang salah, harusnya motornya distandar dua biar enggak jatuh. Pokoknya saya enggak mau ganti rugi ya mas, saya enggak percaya anak saya bisa ngedorong motor masnya sampe jatuh, saya baru percaya kalau motornya jatuh karena emang enggak sengaja kedorong pas anak saya main sepatu roda di halaman kost mas. Lagian mas sendiri tahu kan kalo anak-anak kecil disini hyper semua. Motor mas bisa jatoh kaya gitu, ya jangan salahin anak sayalah, orang itu tempat umum.


Saya, riko dan naufal saling pandang, kami sudah bisa menangkap benang merahnya kalau ibu si x ini tidak punya niatan sama sekali untuk bertanggungjawab atas perbuatan anaknya. Kami bertigapun memutuskan untuk pamit dari rumah ibu si x ini.

Oh well, orangtua si x ini bukan hanya tidak mau bertanggungjawab, tapi juga dengan mudahnya menyalahkan teman saya ini, kami memang tahu setiap orangtua pasti akan melindungi anaknya dengan berbagai macam cara, namun ketika memang si anak ini terbukti bersalah, alangkah lebih baiknya ia sebagai orangtua mencontohkan perbuatan yang semestinya yakni bertanggungjawab dengan mengganti rugi sejumlah uang sesuai kerusakan spion motor yang mungkin tidak seberapa dibandingkan penghasilannya perbulan. Bahkan, orangtua si x ini malah menggunakan kata "tidak sengaja" sebagai cara mengelak dan bisa lepas dari tanggungjawabnya.
Dan parahnya lagi, halaman kost riko yang jelas-jelas sudah dipagar, dibilang sebagai tempat umum, padahal halaman kost ini area privat yang tidak sembarang orang bisa masuk seenaknya.

Mengelak, mengesampingkan kebenaran, bertindak sewenang dengan menyalahkan balik, itulah framework persepsi yang terbesit pada benak kami bertiga. Inikah yang namanya kedewasaan dan tindakan arif dari orang yang merasa dirinya lebih tua dari kami, sudah berkeluarga dan punya anak?

Ternyata, hidup lebih lama pada akhirnya tak bisa membuktikan kalau seseorang memang pantas disebut sudah dewasa, yang ada hanyalah kesombongan pribadi yang menyatakan diri lebih dewasa dan sanggup berlaku arif dalam segala kondisi. Usia terus bertambah, itu berarti, seseorang telah mengalami berbagai macam peristiwa dalam hidupnya, dari kumpulan peristiwa ini, seseorang bisa belajar darinya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama tanpa mengklaim diri lebih dewasa dan bijak dibanding orang lain di sekitarnya.

Saya percaya, ibu si x bukannya tidak mampu membayar ganti rugi, namun harga dirinya yang tinggi itu telah menghalanginya untuk berlaku arif di depan kami dan terlebih di depan anaknya sendiri.

Well, pada akhirnya, riko harus memperbaiki spion motornya sendiri. Memang, harga spion tidak seberapa, namun kalau kamu ada diposisinya riko, terlebih ia adalah mahasiswa rantau, tentunya ia harus mengeluarkan uang lagi yang seharusnya bisa ia simpan untuk kebutuhan makan hariannya beberapa minggu ke depan, print tugas, dan beli buku.

Dari cerita ini, semoga ada pelajaran hidup yang bisa kamu petik yang nantinya siapa tahu bisa berguna untukmu kelak. Terimakasih sudah membaca tulisan ini.

Click to comment