Kuliner Jepang: Is Sushi Delicious Enough For Indonesian?

Kuliner Jepang: Is Sushi Delicious Enough For Indonesian?

Seusai kulineran Ebi Miso dan Sapporo Sio Ramen di Ebisoba Ichigen, kami berpikir untuk membeli sushi yang nantinya akan kami makan sebagai cemilan selama perjalanan pulang ke jakarta timur. Jujur saja, ini kesempatan pertama kalinya kami mencoba makan sushi.

Pertanyaannya adalah: Sushi itu enak enggak sih buat orang Indonesia?

Kami enggak mau ngambil resiko beli sushi dalam jumlah banyak, jadinya kami beli beberapa aja untuk tester. Kalau enak ya beli lagi, kalau ternyata lidah tiba-tiba demo mendadak, yasudah, enggak bakalan ada percobaan makan sushi untuk kedua kalinya.

Biasanya kalau beli sushi itu udah per-paket dan jumlahnya banyak, faktanya kami baru saja makan ramen dengan porsi yang cukup banyak, cukup untuk menahan rasa lapar selama dua jam lebih perjalanan pulang. Untungnya, pendamping tim kami sewaktu lomba, Nath, memberitahu kami kalau ada sushi yang harganya terjangkau dan bisa dibeli satuan.

Benar saja, begitu kami keliling dan menemukan toko sushi yang Nath maksudkan, ada banyak varian sushi dan harganya murah, mulai dari Rp.3000 - Rp.6000, giliran murah, pasti bingung mau beli yang mana aja dan berapa banyak, kebiasaan. Hehe :D

Sewaktu membeli sushi, untungnya antriannya sedang tidak banyak, jadinya bisa cepet selesai dan mencobanya.

So, how does it taste?

Karena penilaian itu harus jujur, maka dari itu, ini jawaban kami bertiga mengenai pengalaman pertama makan sushi. Kami memakannya di dalam mobil, kami mengambil sushinya dan menyantapnya, dan begini rasanya: ampun, gue mual : (

Adik kelas saya pun menyerah, sushinya gak ada yang berhasil ngabisin, mereka cuma kuat makan setengah, sedangkan saya memakan satu sushi hingga habis, setelah itu bencana (baca: semuanya pada mual dan sakit perut). Ditambah saya suka mual kalau bepergian naik mobil, alhasil rasa mualnya naik ke level dua, ditambah lagi, jalanan tol dari BSD City ke jakarta timur macet total, butuh waktu 3 jam untuk sampai kampus. Bisa dibayangkan, ada tiga orang bocah yang baru selesai debat nahan mual di mobil di tengah macetnya jalan tol perkotaan, rasanya pengen muntah tapi gagal terus. Wkwk :D

Kesimpulannya, lidah kami enggak cocok makan sushi, so, kalau nanti saya dan teman-teman komunitas debat bahasa Inggris maen ke AEON Mall lagi, kulinerannya ramen aja, udah enggak mau yang lain. Enak atau enggak sebenernya relatif, tergantung sama lidah, kebiasaan makan, dan selera masing-masing. Kalau kamu suka dengan sushi, makanlah sepuasnya, kalau kamu enggak suka, please, jangan memaksakan, kalau tidak, kamu bakalan ngerasain apa yang saya rasakan. Hehe :)

Sekian, bagaimana cerita ini menurutmu?

Click to comment