No Bookmarks
Bookmark
Rating
Review at:

Satu Seminar Debat yang Mengubah Arah Karier Saya sebagai Debate Coach

Awalnya, saya membayangkan masa depan saya akan berjalan lurus: lulus kuliah, menjadi guru, lalu mengabdi di sekolah.

Profesi guru terasa begitu dekat dengan jurusan kuliah saya dan cita-cita sejak lama. Namun, realitas di lapangan tidak seindah bayangan.

Saya kemudian memahami bahwa praktik upah “jam mati” bukan sekadar isu kecil, melainkan masalah laten yang telah berlangsung puluhan tahun di dunia pendidikan negeri dan swasta Indonesia. Dalam sistem ini, guru dibayar dengan rumus tarif per jam × jam per minggu = gaji bulanan, padahal secara logika hitungan tersebut hanya merepresentasikan satu minggu kerja.

Artinya, guru mengajar empat minggu, tetapi yang dihitung dan dibayar hanya satu minggu efektif. Tiga minggu kerja sisanya seolah tidak pernah ada.

Sebagai contoh, bayangkan seorang guru dengan tarif Rp12.500 per jam dan mengajar 12 jam setiap minggu. Jika mengikuti rumus “jam mati”, maka perhitungannya adalah Rp12.500 × 12 jam = Rp150.000. Angka inilah yang kemudian dianggap sebagai gaji bulanan.

Padahal secara logika, Rp150.000 itu hanya hasil kerja untuk satu minggu. Jika dihitung untuk empat minggu mengajar, seharusnya guru tersebut menerima Rp600.000 per bulan. Artinya, ada tiga minggu kerja yang tidak dihitung dan tidak dibayar.

Di titik itulah saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah ada jalan lain yang tetap membuat saya bisa mengajar, tetapi dengan skema yang lebih layak dan berkelanjutan?

Mencari Alternatif Karier yang Tetap Mengajar

Saya kemudian mulai mencari alternatif pekerjaan lain yang masih memiliki unsur mengajar. Namun, saat itu saya belum benar-benar tahu apa bentuknya. Padahal, sejak tahun 2015 saya sudah aktif mengikuti berbagai lomba debat bahasa Inggris.

Saya mengikuti kompetisi yang diselenggarakan pemerintah seperti NUDC (National University Debating Championship) dan berbagai lomba debat lainnya. Dunia debat sebenarnya sudah sangat dekat dengan saya, tetapi saya belum pernah membayangkannya sebagai jalur karier.

Titik Balik di Seminar Debat IVED UI dan Perkenalan dengan Beyond Debating Indonesia

Titik balik itu datang ketika saya dan tim mengikuti lomba debat IVED UI. Dalam kompetisi tersebut ada sesi seminar debat, kami diperkenalkan dengan sebuah organisasi debat non-profit bernama Beyond Debating Indonesia.

Kami mendapat informasi bahwa organisasi ini membantu mahasiswa dari kampus-kampus yang tidak memiliki UKM debat atau pelatih. Rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun. Kampus kami memang tidak memiliki sistem pembinaan debat yang terstruktur. Tanpa berpikir panjang, kami pun mengajukan permohonan pelatihan kepada organisasi tersebut.

Workshop Pelatihan Debat Bersama Beyond Debating Indonesia

Pengajuan kami diterima. Kami mendapatkan dua mentor luar biasa: Kak Aulia Anggita Larasati dari UI dan Rifan dari ITB. Dari mereka, saya belajar bahwa debat bukan sekadar adu argumen, melainkan seni menyusun pemikiran secara sistematis.

Kami diajarkan cara membangun argumen yang terstruktur, memperkuat analisis, serta membedah aktor-aktor rentan dalam sebuah mosi debat. Cara berpikir saya berubah total. Debat tidak lagi sekadar kompetisi, tetapi proses intelektual yang mendalam.

Dari Peserta Lomba Menjadi Pelatih, Juri, dan Pembicara di Seminar Debat

Di situlah saya tersadar: menjadi pelatih debat akademik ternyata sangat sejalan dengan bidang pendidikan yang saya pelajari di bangku kuliah.

Saya tetap bisa mengajar, tetap bisa membimbing, tetapi dalam konteks yang berbeda dan lebih spesifik.

Perlahan, saya mulai memberanikan diri menawarkan jasa pelatihan debat. Klien pertama saya datang dari kampus dan sekolah.

Seiring waktu, saya juga dipercaya menjadi juri dalam berbagai lomba debat pemerintah seperti NSDC, LDBI, dan kompetisi lainnya. Dunia yang dulu hanya menjadi hobi perlahan berubah menjadi profesi.

Dan bagian terbaiknya, saya berkesempatan menjadi pembicara seminar debat seperti yang mentor debat saya lakukan dulu.

Puncak Perjalanan Coaching di Engcarnation UI, WSC, IPDC, LDBI, hingga NSDC Nasional

Perjalanan coaching saya tidak dibangun dalam satu momentum instan, melainkan melalui rangkaian proses panjang yang mencapai puncaknya dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tonggak penting terjadi di Engcarnation UI 2023, ketika tim debat SMA Taruna Nusantara yang saya latih berhasil meraih Juara 1 tingkat nasional.

Kemenangan itu menjadi validasi bahwa sistem latihan, pembentukan mindset kompetitif, serta disiplin argumentasi yang kami bangun bersama benar-benar bekerja di panggung besar.

Momentum tersebut berlanjut ke level internasional. Pada 2024, siswi SMAN 2 Surabaya yang saya dampingi berhasil meraih banyak gold medals di World Scholar’s Cup (WSC) Korea 2024, sekaligus menorehkan prestasi sebagai 7th Best Speaker di IPDC Hongkong 2024.

Bagi saya, ini bukan sekadar soal medali, tetapi tentang bagaimana pelajar Indonesia mampu berbicara setara di forum global dengan struktur argumentasi yang tajam dan delivery yang matang.

Salah satu momen paling emosional tetap terjadi pada 2024 ketika saya berhasil mengantarkan dua tim—Papua Tengah dan Gorontalo—melaju hingga NSDC Nasional.

Perjalanan mereka tidak mudah: keterbatasan akses latihan, adaptasi strategi, hingga tekanan seleksi provinsi. Namun setiap sesi coaching, bedah mosi, drilling rebuttal, dan simulasi debat terbayar ketika mereka berdiri sebagai Best Speaker tingkat provinsi dan melangkah ke panggung nasional.

Di tingkat wilayah, konsistensi pembinaan kembali terlihat pada seleksi LDBI Wilayah Jakarta Utara 2025. Siswa-siswi SMAN 15 Jakarta yang saya latih berhasil meraih Best Speaker 1, 2, dan 3 sekaligus—sebuah capaian yang menunjukkan dominasi kualitas individu dalam satu kompetisi yang sama. Prestasi tersebut mengantarkan mereka melaju ke LDBI 2025 tingkat Provinsi DKI Jakarta, memperluas panggung kompetisi yang mereka hadapi.

Pada ranah NSDC, pencapaian individu juga semakin menguat. Di NSDC 2025 tingkat Provinsi DKI Jakarta, murid yang saya latih berhasil meraih peringkat 9th dan 10th Best Speaker. Hasil ini bukan hanya angka peringkat, melainkan refleksi dari ketahanan mental, konsistensi latihan, dan kemampuan beradaptasi dengan standar penilaian debat yang semakin kompetitif di level provinsi.

Yang bikin saya benar-benar terharu di WSC 2025 kemarin adalah ini: tiga tim dari SMP Labschool Cirendeu Tangerang yang saya latih itu sebenarnya baru pertama kali ikut World Scholar’s Cup. First timer. Belum pernah ngerasain atmosfernya, belum pernah ngerasain pressure panggung internasional. Tapi justru di pengalaman pertama itu, mereka langsung tancap gas—borong banyak trofi dan gold medals di tingkat regional Jakarta, lalu lanjut tampil percaya diri di WSC Global Round Bangkok 2025 dan tetap pulang dengan prestasi internasional. Buat saya, ini bukan cuma soal medali. Ini tentang anak-anak yang berani melangkah ke panggung dunia untuk pertama kalinya… dan membuktikan bahwa mereka memang pantas ada di sana.

Itulah puncak perjalanan coaching saya sejauh ini—dari Engcarnation UI, IPDC, WSC, LDBI wilayah hingga NSDC tingkat provinsi dan nasional—sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa ketika strategi, disiplin, dan komitmen bertemu dengan potensi yang tepat, hasilnya dapat melampaui ekspektasi.

Souvenir yang Menyimpan Cerita dan Makna Mendalam

Dari tim Papua Tengah, saya menerima sebuah tumbler NSDC sebagai bentuk apresiasi kepada pelatih mereka. Benda itu sederhana, tetapi maknanya luar biasa. Hingga hari ini, saya masih menyimpannya dan menggunakannya. Setiap kali melihatnya, saya teringat bahwa coaching bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang kepercayaan, perjuangan kolektif, dan transformasi yang terjadi sepanjang proses.

Bukan hanya itu, dalam perjalanan kompetisi debat lainnya, ada juga souvenir khas yang selalu punya tempat spesial—seperti boneka Alpaca ikonik dari lomba World Scholar’s Cup. Lucu, unik, dan langsung mengingatkan pada atmosfer kompetisinya. Bagi banyak peserta, boneka itu bukan sekadar merchandise, tetapi simbol pengalaman pertama tampil di panggung internasional, begadang bareng tim, deg-degan saat pengumuman, sampai momen selebrasi kecil setelahnya.

Souvenir-souvenir sederhana itu membuat saya semakin yakin bahwa kenang-kenangan dalam sebuah kompetisi punya peran emosional yang besar.

Ia bukan sekadar benda, tetapi penanda perjalanan. Karena itu, saya melihat peluang besar jika brand corporate gift seperti Mahada, dapat merambah pasar seminar kit dan souvenir custom untuk lomba debat akademik di sekolah maupun kampus.

Dengan konsep yang tepat, merchandise bukan hanya pelengkap acara, tetapi bisa menjadi simbol prestasi yang benar-benar memorable dan melekat lama di ingatan peserta.

Karier yang awalnya saya kira akan berakhir di ruang kelas sebagai guru sekolah, ternyata berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas.

Kini, saya tetap menjadi pengajar—tetapi dalam bentuk yang berbeda. Saya melatih kemampuan berpikir kritis, menyusun argumen, dan berbicara di depan publik di berbagai sekolah dan institusi.

Debat akademik bukan lagi sekadar aktivitas lomba, melainkan karier utama saya. Dan semua itu berawal dari satu seminar debat yang membuka mata saya bahwa mengajar bisa hadir dalam banyak bentuk—selama kita berani melihat peluangnya.