Cara Juri & Tabulator Menentukan Tim Draw di Lomba Debat
Semua peserta lomba debat beserta pendampingnya; guru, orangtua murid, hingga pelatih, berhak mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana sistem tim draw ditentukan dalam lomba debat dan siapa yang berwenang memutuskannya.
Untuk memenuhi hak tersebut, artikel edukasi ini hadir untuk membantu para peserta dan pendamping lomba debat agar bisa tahu bagaimana sistem draw dinyakatan adil dan mana yang berpotensi melakukan kecurangan di lomba debat
Dengan memahami hal ini, kamu dapat menilai kualitas sebuah turnamen debat dan menentukan apakah kompetisi tersebut layak kamu ikuti kembali di masa mendatang.
Mengenal Sistem Draw Dalam Lomba Debat Akademik (Parlementer Asia, British, & Australasian)
Bagi murid atau mahasiswa yang baru pertama kali mengikuti lomba debat, pasti masih bingung ya gimana draw antar tim sekolah atau kampus wilayah ditentukan dan apakah ada metrik yang harus dipahami dalam penentuannya akan dibahas tuntas di konten ini.
Sistem Draw yang Digunakan Di Lomba Debat
Di lomba debat akademik berformat parlementer, kita menentukan tim draw di lomba debat menggunakan sistem power-pairing (Baca Referensi: Panduan NUDC & KDMI Kemdikbud), penjelasan mudahnya; ini adalah metode penentuan tim berdasarkan hasil dan performa pemenangan poin (Victory Point) dan skor tim, dan metrik lainnya jika diperlukan seperti margin kumulatif dari babak sebelumnya.
Prinsip sistem power-pairing dipilih karena memenuhi asas yang adil di lomba debat;
Kapan Sistem Power Pairing Mulai Diterapkan?
Khusus untuk ronde awal, sistem pairingnya menggunakan metode acak / random, di ronde kedua, setelah semua tim punya skor pemenangan poin (VP), barulah diterapkan prinsip power-pairing, begitu juga ronde 3, 4, quarter, octo, semifinal, hingga final.
Siapa yang Berwenang Menentukan Tim Draw Dalam Babak Penyisihan - Babak Final di Lomba Debat?
Ada dua stakeholder / aktor yang terlibat dan punya kewenangan dalam menentukan tim draw di setiap babak lomba debat, yaitu: 1) Ketua Juri (CA) & Wakil Ketua Juri (DCA), 2) Tabulator. Berikut mekanisme kerja kedua staf ini di lomba debat:
Kedua, melakukan pembuatan pairing secara otomatis (Biasanya menggunakan aplikasi web seperti Tabbycat, Tabbie, atau aplikasi sejenis yang mengikuti aturan pairing).
Ketiga, sebelum menyerahkan hasil output tim draw dari sistem tab kepada juri, tabulator harus memastikan tidak ada:
+ Institutional clash: dua tim dari sekolah/kampus yang sama jangan sampai ditandingkan)
+ Region clash: dua sekolah / kampus dari wilayah yang sama jangan sampai ditandingkan (Kecuali di ronde 1 yang menggunakan pairing acak, ini masih diizinkan, namun jika dibabak penyisihan lanjutan, misal di babak 4, hasil draw-nya terjadi region clash lebih dari sekali alias rematch dari dua tim dari wilayah sama, ini jelas tidak adil, keliru, & berpotensi adanya kecurangan dari draw yang dibuat.
+ Judge conflict: memastikan tidak ada juri yang pernah punya konflik atau hubungan tertentu dengan tim yang akan dinilainya—misalnya juri pernah melatih tim tersebut, alumni dari sekolah tim tersebut, atau punya hubungan pribadi sehingga hasil penilaiannya menjadi tidak adil dan berpihak kepada tim yang ingin dimenangkan atau dalam kasus tidak etis; memenangkan pihak yang membayarnya.
+ Menyetujui output pairing dari tabulator
+ Meminta revisi bila ada kesalahan teknis
Disclaimer:
Dalam silent round sekalipun, biasanya ronde 3 menerapkan sistem silent round; hasil victory point tidak dipublikasikan, mereka; ketua dan wakil juri lah yang menentukan hasil draw dironde ke-4 dan seterusnya agar pertandingan tetap konsisten dan adil bagi semua pihak.
Jika hasil draw di ronde 4 menyalahi aturan power-pairing dimana ada beberapa tim dari wilayah yang sama bertanding (region clash), institutional clash, dan judge conflict terjadi, kamu patut curiga bahwa sistem draw-nya dimanipulasi (Hal ini memang jarang terjadi di lomba debat dengan reputasi baik dengan pelaksanaan ketat, tapi meski begitu, kejadian ini juga bisa terjadi di lomba debat skala kecil apalagi lombanya terbilang baru diadakan pertama kali).
Agar kamu bisa tahu seperti apa sistem tim draw yang baik dan keliru / dimanipulasi, kamu bisa baca poin bab selanjutnya yang mengulas simulasi penentuan tim draw di lomba debat.
Simulasi Sistem Draw Menggunakan Prinsip Power-Pairing di Lomba Debat
Agar memudahkan ilustrasi penjelasan simulasinya, anggap kita sedang mengikuti lomba debat bahasa Inggris untuk siswa sekolah yang diadakan di provinsi DKI Jakarta. Nama lombanya; EDC 2025 (Nama lomba imajiner).
Di lomba debat EDC ini, setiap wilayah mengirimkan 2 tim debat seperti ini:
- Jakarta Timur 1
- Jakarta Timur 2
- Jakarta Pusat 1
- Jakarta Pusat 2
- Jakarta Selatan 1
- Jakarta Selatan 2
- Jakarta Barat 1
- Jakarta Barat 2
- Jakarta Utara 1
- Jakarta Utara 2
Sebagai simulasi, kita akan memakai data ronde 1-3, kemudian data ini akan dibagi menjadi 2 kolom tim draw untuk ronde 4; 1) Simulasi Draw Adil & Benar, 2) Draw Keliru / Curang. Sekarang, silahkan simak data hasil draw ronde 1-3 dibawah ini yang sudah ada jumlah victory point dan skor tim-nya ya:
| No | Tim | Victory Point | Skor Tim |
|---|---|---|---|
| 1 | Jakarta Timur 1 | 3 VP | 717,5 |
| 2 | Jakarta Timur 2 | 2 VP | 719.0 |
| 3 | Jakarta Selatan 2 | 2 VP | 702.0 |
| 4 | Jakarta Utara 2 | 2 VP | 700.5 |
| 5 | Jakarta Pusat 2 | 2 VP | 699.5 |
| 6 | Jakarta Pusat 1 | 1 VP | 715 |
| 7 | Jakarta Barat 2 | 1 VP | 710 |
| 8 | Jakarta Barat 1 | 1 VP | 687 |
| 9 | Jakarta Utara 1 | 1 VP | 686 |
| 10 | Jakarta Selatan 2 | 0 VP | 663 |
Dari 10 data tim diatas, saya akan membuat simulasi tim draw-nya untuk ronde 4. Berikut simulasi tim draw-nya:
Timur 1-Selatan 2
Timur 2-Utara 2
Pusat 2-Barat 2
Pusat 1-Barat 1
Utara 1-Selatan 1
✅ Draw adil, tidak ada regional clash, disusun berdasarkan vp & tim skor tertinggi.
Selatan 2-Utara 2
Barat 1-Barat 2
Pusat 1-Pusat 2
Timur 1-Timur 2
Selatan 1-Utara 1
❌ Draw tidak adil, terjadi regional clash; seharusnya ditandingkan dengan wilayah berbeda.
Dengan membaca konten edukasi debat akademik ini, kamu jadi tahu bagaimana mekanisme tim draw ditentukan, prinsip sistem yang diterapkan, dan aturan draw yang seharusnya dipenuhi tabulator dan ketua juri agar hasilnya adil beserta cara menilai tim draw yang salah / curang.
Semoga konten ini bermanfaat untuk kamu ya, khususnya kamu; debater dan pendampingnya (Guru, pelatih, ortu). Jika lombanya menggunakan sistem draw yang adil, lomba tersebut layak kamu ikuti setiap tahunnya.
Tapi jika tabulator dan ketua juri mendapat intervensi pihak tertentu dan memberinya imbalan untuk melakukan match-fixing untuk memenangkan tim tertentu, keputusan rasional yang bisa kamu ambil adalah blacklist lomba debatnya, nggak usah ikuti lagi, percuma juga kalau juaranya sudah ditentukan dari awal, nggak adil untuk peserta yang berdebat dengan jujur tapi diakali oleh sistem draw dan penilaian yang kurang adil.
Oh iya, jika kamu tertarik untuk belajar bagaimana juri menentukan best speaker di lomba debat, kamu bisa baca artikel saya yang ini: "Cara Juri NSDC & LDBI Menentukan Best Speaker di Lomba Debat".

Posting Komentar